Categories
Default

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan

Fenomena La Nina sepanjang 2016 sampai April lalu mengakibatkan tingginya curah hujan di atas kondisi normal. Keadaan tersebut turut membuat beberapa komoditas pertanian terkena dampaknya, termasuk unggas. Meningkatnya kelembapan udara memudahkan bakteri untuk berkembang sehingga kasus penyakit yang menyerang bermunculan.

Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASohi) Irawati Fari mengatakan, anomali cuaca akibat La Nina berdampak meningkatkan kasus penyakit unggas di Indonesia. Pada saat bersamaan, imbuhnya, peternak layer (petelur) juga menginformasikan kasus penurunan produksi yang bikin mereka merugi.

Andi Wijanarko, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Asohi menyambung, para peternak ayam petelur beberapa bulan terakhir diresahkan dengan merebaknya penyakit yang menyebabkan penurunan tajam produksi telur. “Disinyalir penyebabnya karena Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI),” ungkapnya di sela-sela seminar yang diadakan Asohi April silam di Jakarta.

E. coli Patogenik

Pada kesempatan yang sama, Michael Haryadi Wibowo menyatakan sependapat dengan Ira. Sekretaris bidang Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Yogyakarta ini menjelaskan, salah satu kasus yang banyak terjadi saat ini adalah kolibasilosis yang diakibatkan bakteri Escherichia coli pada unggas, misalnya avian pathogenic E. coli (APEC).

APEC dapat menyerang semua kelompok umur ayam. Di Indonesia, strain yang menyerang meliputi O1K1, O2K1, dan O78K80. Dari organ ayam yang terinfeksi, sampel pakan, kotoran ternak dan air minum yang dikumpulkan dari berbagai daerah, jumlah strain O2K1 yang tertinggi. “Berdasarkan beberapa cara infeksinya, perlu diketahui APEC mampu menginfeksi melalui respirasi dan kloaka,” bebernya.

Yang paling penting, lanjut Haryadi, APEC dapat tumbuh dan berkoloni di luar sistem pencernaan dan menempel pada organo-rgan dalam unggas kemudian menyebabkan kerusakan. Secara in ovo ia menguji, patogenisitas APEC pada tingkat tinggi bisa menyebabkan kematian embrio lebih dari 29% setelah menginfeksi. “Pada patogenisitas sedang menyebabkan kematian embrio 10% – 29%, sedangkan rendah menyebabkan kematian di bawah 10%,” detailnya.

Lebih jauh Haryadi menyebutkan, APEC bisa terjadi karena beberapa faktor pendukung. Mulai dari kualitas bibit ayam (DOC), manajemen kandang seperti litter basah dan ventilasi yang kurang baik, adanya imunosupresi semacam mikotoksin, IBD, koksidia, hingga faktor infeksi mikoplasma dan virus. Faktor lingkungan juga berperan besar, seperti kualitas air, curah hujan yang berlebihan, dan perubahan cuaca ekstrem, baik itu panas maupun dingin.

Masih menurut peraih gelar Master Veteriner UGM itu, bakteri APEC dapat menular melalui beberapa cara, kontak langsung unggas sakit, sapronak yang tercemar termasuk pakan dan minum ayam. Kuman yang terkandung dalam litter (alas kandang), feses, dan debu atau bahkan lewat infeksi alam.

La Nina dan Infeksi AI

Sementara Profesor Widya Asmara, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta, berpendapat, di beberapa negara, perubahan iklim telah terbukti ningkatkan risiko wabah flu burung (Avian Influenza-AI). Widya menambahkan, suhu saat La Nina yang lebih rendah dan kelembapan udara relatif lebih tinggi menyebabkan meningkatnya persistensi dan stabilitas virus AI.

TRY SURYA ANDITYA La Nina dan Infeksi AI Sementara Profesor Widya Asmara, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta, berpendapat, di beberapa negara, perubahan iklim telah turut ambil bagian dalam Perubahan cuaca sangat berpengaruh terhadap unggas. Bahkan, ulas Widya, berdampak langsung terhadap agen infeksinya sendiri. “Misal saja pengaruh kepada survival dan evolusi mikrobianya sehingga akan memungkinkan munculnya penyakit-penyakit baru,” simpulnya.

Perubahan cuaca pun berkontribusi dalam transmisi atau mengubah jangkauan geografik serta reproduksi vektor pembawa penyakit, yaitu unggas-unggas liar yang bermigrasi akibat pengaruh cuaca. Ini membuat penyebaran penyakit tidak terjadi seperti biasanya. “Mungkin bisa mengaktivasi infeksi laten atau yang memang sudah endemik seperti AI,” terangnya.

Namun, Widya menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk membuktikan dampak La Nina terhadap jumlah kasus AI, genotipe serta fenotipe baru virus AI yang ada, aktivasi infeksi laten dan adanya virus AI H9N2. Terkait virus ini, ia mengakui, banyak laporan tidak resmi mengenai keberadaannya di Indonesia. Ia menegaskan, memang saat ini virus Low Pathogenic AI (LPAI) telah terdeteksi. “BB Veteriner Maros, Sulawesi Selatan sudah mendeteksi tentang ini,” ungkap Widya.

Ia menyayangkan, sejauh ini pusat veteriner hanya terfokus pada virus H5N1. Menurutnya, virus H9N2 juga harus dipelajari untuk mengetahui apakah virus tersebut baru atau memang sudah ada sebelumnya. Virus H9N2 memang tidak berindikasi menyebabkan angka kematian tinggi, tetapi pengaruhnya terhadap penurunan produksi telur perlu diklarifikasi karena banyak faktor lainnya yang menyebabkan penurunan.

Meski demikian, Widya menilai virus H9N2 bukan hanya satu-satunya faktor yang menyebabkan turunnya produksi telur. “Mungkin saja benar memang karena perubahan cuaca atau infeksi penyakit lainnya,” cetus Ketua Komisi Obat Hewan Kementan itu.

Praktik Pengelolaan yang Baik

Senada dengan Haryadi dan Widya, Agus Mardiyanto dari Charoen Pokphand Indonesia berujar, perubahan iklim yang drastis mempengaruhi kinerja ayam. Peternak, ungkapnya, harus siap menghadapi perubahan cuaca ataupun penyakit yang datang. Termasuk di dalamnya manajemen ternak yang baik, meliputi pakan, minum, dan biosekuriti dalam mencegah kemungkinan masuknya agen pembawa penyakit. “Vaksinasi yang benar dan tepat waktu juga perlu,” lengkapnya.

Praktik pengelolaan terbaik harus diterapkan untuk mencegah dampak negatif perubahan iklim. Nutrisi, tegas Agus, juga memainkan peran kunci. Pemberian pakan yang seimbang dan berkualitas dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Selama ini ada kesalahpahaman tentang vaksinasi di lapangan. Ia mengingatkan, program vaksinasi tidak bisa menggantikan manajemen yang buruk. ”Stres selama dan setelah vaksinasi mempengaruhi target pencapaian berat badan. Karena itu, asupan pakan harus ditingkatkan satu-dua minggu sebelum vaksinasi,” pungkas Agus.