Categories
Default

Si Anak Kandang yang Terus Memperluas Kandang

Berawal sebagai anak kandang, saat ini Handi Mulyadi mampu memiliki kandang sendiri. Belajar secara mandiri dan fokus dalam menjalankan bisnis merupakan kunci utama bisnisnya tetap bertahan.

“Pada dasarnya saya memang hobi miara binatang sih, kemudian di perusahan tempat kerja dulu saya belajar secara mandiri. Setelah berpengalaman, baru saya coba usaha punya kandang untuk broiler,” terang pria berusia 37 tahun ini kepada AGRINA (25/11).

Bermodalkan lahan seluas 250 m2 warisan keluarga dan uang sebesar Rp25 juta, Handi mengawali usahanya dengan membuka kandang broiler berkapasitas 1.000 ekor. “Dulu modal awal Rp15 juta untuk bikin kandang. Nah, untuk isi DOC (bibit ayam), pakan, ba yar kar yawan, pokok nya semua biaya ope rasional itu sekitar Rp10 juta, jadi modal awal total Rp25 juta,” kenang pemilik Handi Mulyadi Farm ini.

Perjuangan

Handi mengungkap, pada awal usaha memang terasa berat karena hanya mendapat ke untungan Rp600 ri bu sampai panen siklus selanjutnya. “Saya merasa sedih juga, ba nyak ayam yang mati. Dengan keuntungan Rp600 ribu itu sebenarnya sangat kurang. Apalagi sewaktu melihat anak saya sakit, saya jadi makin sedih,” tutur ayah tiga anak ini.

Warga Kampung Ciresek, Desa Jagabaya, Kec. Parungpanjang, Bogor, tersebut tidak pasrah meratapi nasib, tetapi tetap bersemangat menjalankan usahanya. Ia juga menimba ilmu dari sesama peternak.

“Saya sering diskusi dengan sesama peternak mengenai obat tradisional untuk ayam. Sampai sekarang saya pakai larutan gula merah untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam,” terangnya. Ia juga rajin bertanya kepada penyuluh dari perusahaan mengenai kondisi ayam-ayamnya dan bagaimana cara menanganinya.

Kemitraan

Beberapa tahun menjalani usaha mandiri, Handi merasakan fluktuatifnya harga ayam yang sangat bergantung pada pasar. Melihat ada teman yang “aman” karena bermitra dengan perusahaan, ia pun mengikuti jejak sang teman. Pada 2012, ia mulai menjalin kemitraan dengan PT Ciomas Adisatwa.

Handi mengaku lebih untung dengan kemitraan. “Dari pakan, obat-obatan, PPL, semua dipasok perusahaan dan kami punya harga kontrak,” jelasnya. Harga kontrak tiap siklus diperbarui berdasarkan naik turunnya harga sarana produksi ternak. Apabila harga pasar ayam sedang bagus, ia mendapatkan bonus dari kelebihan harga pasar.

PT Ciomas Adisatwa mensyaratkan minimal populasi ayam 5.000 ekor/siklus sehingga pada 2012 ia membuat kandang baru hingga total kapasitasnya 7.000 ekor. Saat ini, kandang miliknya berkapa sitas 18 ribu ekor. “Penambahan kapasitas kandang itu bertahap dengan Kredit Usaha Rakyat Bank BRI. Sekarang sudah satu tahun, masih dua tahun lagi cicilannya. Saya berharap dapat dimudahkan akses keuangannya karena rencana mau beli tanah tetangga,” terang pemilik lahan seluas 500 m2 ini.

Handi menegaskan, dalam menjalankan bisnis harus fokus sehingga dalam pengerjaannya telaten. Setelah empat tahun bermitra, ia mampu mempekerjakan lima karyawan. Kalau dalam dua tahun menjalankan 13 siklus dengan keuntungan ratarata Rp18 juta/siklus, maka Rp234 juta bersih masuk ke koceknya atau Rp9,75 juta/bulan.